Beritaislam.com – Slow living merupakan sebuah istilah yang mungkin sudah tidak terdengar asing lagi di telinga kita. Awal mula istilah tersebut berkembang di negara Italia pada tahun 1980-an yang berakar dari gerakan slow food.
Seiring berjalannya waktu, ternyata gagasan ini mulai berkembang tak terbatas pada urusan makanan saja melainkan juga hal lainnya yang pada akhirnya dikenal dengan slow living. Slow living sering kali dianggap sebagai hal yang baik untuk kesehatan mental karena bisa terhindar dari burnout dan stress.
Namun apakah slow living ini dikatakan sebagai orang yang malas? Yuk simak lebih lanjut!
Tren Slow Living dalam Pandangan Islam
Meskipun orang yang melakukan slow living kerap kali dikatakan sebagai orang yang pemalas, namun bukan berarti orang yang menerapkannya tidak bisa mencapai kesuksesan.
Slow living tidak selalu bermakna orang tersebut malas, tetapi lebih ke bagaimana orang tersebut dalam mengatur dan memprioritaskan waktunya. Waktu adalah hal yang sangat berharga sehingga Allah SWT saja bersumpah atas nama waktu.
Banyak orang yang mengeluh jika waktu dalam sehari terasa begitu singkat sehingga masih kurang panjang dalam menyelesaikan pekerjaan. Pekerjaan jadi semakin menumpuk hingga membuat pikiran stres berlebihan.
Orang yang hidup lambat terkadang juga dikatakan tidak memiliki pencapaian apapun dalam hidup. Padahal tidak semua hal harus dipamerkan dan diketahui oleh semua orang. Tidak semua pencapaian harus divalidasi orang agar terlihat hebat.
Namun, tak jarang banyak orang yang justru mengharapkan perhatian dan pujian karena keberhasilannya. Hingga pada akhirnya, kita tidak akan pernah berhenti untuk terus memenuhi standar ekspektasi orang lain yang tiada habisnya.
Fokuslah terhadap tujuan yang akan dirimu capai. Jangan pernah melihat pencapaian orang lain yang hanya akan membuatmu merasa iri tetapi cobalah untuk bisa menghargai setiap proses pencapaian diri sendiri.
Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْاۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَۗ وَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
Artinya: “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 32)
Hidup lambat bukan tentang seseorang yang malas, melainkan cara seseorang menghargai setiap waktu yang ada dengan mengerjakan hal-hal yang memang diperlukan. Seperti halnya firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
Artinya: “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”
Hidup lambat tidak selalu menjadi hal yang buruk. Sebab saat ini, manusia modern terlalu terburu-buru dalam melakukan sesuatu bahkan jika hal tersebut bukan hal yang darurat untuk dikerjakan.
“Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (Hadist Riwayat Tirmidzi)
Itulah tadi pembahasan mengenai tren slow living dalam pandangan Islam. Pada dasarnya, hidup lambat bukan berarti seseorang bersifat malas melainkan ia sedang menikmati setiap waktu yang berlalu dengan tidak terburu-buru.
Dalam hal ini, hidup lambat mengajarkan kita bahwa yang terlambat tidak selalu buruk. Karena pada dasarnya, Allah SWT telah merencanakan sesuatu yang indah dan akan diberikan disaat yang tepat. Jangan sampai kita terlalu berambisi dalam mengejar sesuatu kemudian kita melupakan Sang Pencipta alam semesta.
Baca Juga: Hukum Performative Male dalam Pandangan Islam, Benarkah Termasuk Flexing?
Penulis: Suci Wulandari
