Beritaislam.com – Menjelang Ramadhan 2026, banyak orang mulai bersemangat memperbaiki diri. Sayangnya, niat baik itu sering berbenturan dengan kebiasaan lama yang sudah mengakar. Seperti rebahan setiap hari, scroll sosmed tanpa batas waktu dan lainnya.
Tidak sedikit yang ingin berubah secara instan, lalu kecewa sendiri saat gagal konsisten. Padahal, persiapan Ramadhan 2026 bukan tentang berubah drastis dalam semalam, melainkan proses berdamai dengan diri sendiri.
Cara Berdamai dengan Kebiasaan Lama untuk Persiapan Ramadhan 2026
Pertama, memahami dan mengakui bahwa kebiasaan lama tersebut memang tidak baik. Langkah ini sering dilewatkan karena terasa tidak nyaman. Mengakui bahwa suatu kebiasaan merugikan diri sendiri justru menjadi awal perubahan.
Setelah itu, kuatkan tekad dan sertai dengan doa, memohon kepada Allah agar dijauhkan dari kebiasaan buruk tersebut. Dalam persiapan Ramadhan 2026, doa merupakan senjata utama seorang muslim dan menjadi pondasi penting karena perubahan hati tidak pernah lepas dari pertolongan-Nya.
Rasulullah SAW bersabda,
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ}.
Artinya: Nabi SAW bersabda, “Doa itu senjata orang mukmin, tiang agama, serta cahaya langit-langit dan bumi.” (HR. Imam Abu Ya’la)
Kedua, meninggalkan kebiasaan lama secara perlahan, bukan dengan paksaan ekstrem. Kesalahan yang sering terjadi adalah ingin langsung berhenti total, misalnya berhenti bermain media sosial sama sekali.
Cara ini justru rawan gagal karena tidak realistis. Lebih bijak jika kebiasaan tersebut dipahami dulu dampak buruknya, lalu dikurangi sedikit demi sedikit. Contohnya, dari yang sebelumnya scroll media sosial tanpa batas waktu, mulai dibatasi hanya 30 menit sehari. Konsistensi kecil seperti ini jauh lebih efektif dalam menyambut Ramadhan 2026.
Ketiga, mengganti kebiasaan lama dengan aktivitas yang lebih bermanfaat. Kebiasaan buruk tidak cukup hanya ditinggalkan, tetapi perlu digantikan. Waktu yang biasanya habis untuk hal tidak berfaedah bisa dialihkan ke aktivitas ringan seperti membaca, olahraga singkat, tadabbur alam, atau sekadar memperbaiki kualitas ibadah harian.
Dengan langkah kecil dan bertahap, perubahan terasa lebih manusiawi dan berpeluang besar untuk bertahan hingga Ramadhan tiba.
Jadi, itulah lersiapan Ramadhan 2026 bukan soal menjadi sempurna, tetapi soal mau berproses. Kita bisa memulai berdamai dengan kebiasaan lama, melangkah pelan, dan konsisten dalam kebaikan jauh lebih penting daripada perubahan besar yang tidak bertahan lama.
Baca Juga: Masjid Kehilangan Peran Sosialnya?: Kilas Balik Fungsi Sosial Masjid Nabawi di Zaman Nabi
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
