Beritaislam.com – Saat lebaran pernahkah kamu mendengar kalimat seperti, ‘kapan nikah’, ‘kapan punya anak’, ‘kerja di mana?’, ‘kapan lulus’, ‘kapan kerja?’. Kalimat ini biasanya dikategorikan sebagai kalimat basa-basi.
Kalimat basa-basi sering dilontarkan bertujuan untuk menghangatkan obrolan dan memancing topik pembicaraan yang sering dilakukan orang saat lebaran. Namun, tidak jarang banyak orang yang merasa tidak nyaman dengan kalimat basa-basi, dan menganggapnya sebagai kalimat yang tidak penting.
Lantas bagaimana sebaiknya seorang muslim bersikap terhadap fenomena semacam ini?
Sikap Muslim Terhadap Kalimat Basa-basi
Dalam Islam, lisan sangat diperhatikan, seseorang bisa mendapat pahala karena lisannya dan bisa juga mendapat dosa karena lisannya. Lisan di akhirat kelak akan dimintai pertanggungjawabannya, penting bagi kita untuk selalu menjaga lisan.
Rasulullah SAW bersabda,
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari).
Dalam sejarah, banyak orang hebat yang jatuh karena tidak pandai dalam menjaga lisan dan banyak pula orang biasa yang naik ke puncak karena keahliannya menggunakan lisan. Lisan itu seperti pedang bermata dua, jika tidak menjaga lisan sama halnya seperti membiarkan diri tenggelam dalam lautan luas tanpa pelampung.
Maka, Rasulullah SAW telah mengingatkan hal ini jauh-jauh hari. Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ صَمَتَ نَجَا
“Barang siapa yang diam akan selamat.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini menunjukkan betapa dahsyatnya lisan, hingga diam dapat menyelamatkan seseorang. Maka, hendaknya kita tidak mengatakan kalimat yang kita sendiri tidak memahaminya.
Kalimat basa-basi pada dasarnya tidaklah salah selama itu tidak membuat orang terluka, namun perlu diperhatikan bahwa ‘kalimat patokan terluka’ setiap orang pun berbeda-beda.
Kalimat seperti ‘kapan nikah’, ‘kapan lulus’ sebenarnya merupakan kalimat yang netral, tapi untuk sebagian orang kalimat itu terasa menyudutkan dan menekan, kita tidak bisa memaksa orang untuk menganggap kalimat itu sebagai kalimat netral juga, karena kita tidak tahu apa yang membuat kalimat itu terasa menyakitkan bagi mereka.
Maka, kita harus sangat berhati-hati dalam hal ini. Jangan sampai kalimat basa-basi yang kita tujukan untuk menjaga silaturahmi atau menghangatkan obrolan malah menjadi kalimat yang membuat orang sakit hati.
Muslim yang baik hendaknya untuk selalu berhati-hati dalam menjaga lisan, jika merasa tak yakin, maka lebih baik untuk diam.
Pada dasarnya kalimat basa-basi boleh dikatakan jika memang bertujuan baik, tapi dengan beragam catatan yang harus perhatian atas orang yang ditanya, apakah dia nyaman atau merasa tidak nyaman, dan diam terhadap kalimat yang tidak diketahui jauh lebih baik.
Jadi, itulah sikap bijak seorang muslim terhadap penggunaan kalimat basa-basi.
Baca Juga: Cut Off Dalam Pandangan Islam: Memaafkan tapi Menolak Kembali Berjumpa
Penulis: Annisa Adelina Sumadillah.
