Beritaislam.com – Pernahkah kamu mendengar hikmah dibalik kisah Nabi Muhammad SAW dan Pengemis buta?
Jika kita melihat kisah hidup Nabi Muhammad SAW maka kita akan tahu bagaimana seorang muslim sebaiknya bersikap dalam menghadapi cacian manusia. Allah SWT berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).
Hikmah Dibalik Kisah Nabi Muhammad SAW dan Pengemis Buta
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita menemukan orang yang lisannya sangat enteng dalam menghina bahkan mencaci maki orang lain. Namun, sebagai seorang muslim hendaknya kita tidak membalas hal buruk dengan keburukan yang sama sebagai yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW bukan saja manusia yang diutus untuk menyampaikan risalah Islam, tapi juga merupakan teladan bagi setiap manusia. Semua perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW hendaknya menjadi teladan umat muslim dalam menjalankan kehiduapan sehari-hari.
Dikutip dari buku ‘Jubah Kanjeng Nabi: Kisah Menakjubkan Para Ulama yang Berjumpa Nabi’ karya A. Yusrianto Elga dan Nor Fadhilah menceritakan mengenai kisah menyentuh hati antara Rasulullah dan pengemis buta.
Diceritakan bahwa Rasulullah memiliki kebiasaan memberi makan seorang pengemis buta di sudut pasar Madinah.
Pengemis Yahudi itu sangat membenci Nabi Muhammad SAW, sering menghina, merasa jijik dan muak jika mendengar orang menyebut nama Muhammad. Bahkan, ia tak segan sampai menundu Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pembohong besar dan tukang sihir.
Namun, Nabi Muhammad SAW sama sekali tidak menyimpan dendam pada pengemis buta itu dan tetap menyuapkan makanan setiap pagi.
Kebiasaan itu terus berlanjut sampai akhirnya sempat terputus lantaran Rasul wafat. Selang beberapa waktu, Abu Bakar bin Shiddiq bertanya pada Aisyah RA mengenai kebiasaan apa saja yang sering Rasul lakukan. Aisyah RA pun menceritai mengenai kebiasaan ini.
Begitu sampai di pasar, Abu Bakar bin Shiddiq menemui pengemis buta itu dan memberinya makan, tapi tiba-tiba pengemis itu bertanya, “siapakah Engkau?”
Abu Bakar bin Shiddiq menjawab, “saya orang yang biasanya.”
Pengemis buta itu langsung menyela dan berkata dengan penuh keyakinan bahwa Abu Bakar bin Shiddiq bukanlah orang yang sama, yang selama ini menyuapinya makanan.
Pengemis buta itu berkata lagi, ” Apabila ia datang, tangan ini bahkan tak perlu memegang dan tak usah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku dan selalu menghaluskan makanan sebelum diberikan padaku.”
Mendengar itu Abu Bakar bin Shiddiq menangis dan mengatakan bahwa orang yang biasanya memberi makan telah wafat yaitu orang mulia Nabi Muhammad SAW.
Mendengar itu bergetarlah hati pengemis buta itu, baru sadar bahwa orang yang selama ini sering ia caci merupakan orang yang selalu memberikannya perlakukan baik dan lembut dan sama sekali tidak membalas caciannya. Pengemis buta itu lantas bersyahadat di hadapan Abu Bakar RA.
Dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran paling berharga bahwa selamanya kebaikan akan tetap jadi kebaikan sekali pun itu diberikan pada orang yang sering mencaci kita.
Rasulullah SAW bersabda,
يا عائِشَةُ ! عليكِ بتقوى اللهِ ، والرفْقِ ، فإِنَّ الرِّفْقَ لم يكنْ في شيءٍ قط إلَّا زانَهُ ، ولَا نُزِغَ مِنْ شيءٍ قطُّ إلَّا شانَهُ
Artinya: “Hai Aisyah, bertakwalah kepada Allah SWT, dan bersikaplah ramah. Sesungguhnya keramahan jika ditempatkan dimanapun, ia akan menghiasinya, dan tidak dilepas dari mana pun kecuali ia akan menjadikannya buruk”. (HR Muslim)
Dalam Islam tidak ada istilah “orang jahat lahir dari orang baik yang tersakit,” melainkan, ‘teruslah berbuat baik sampai akhir hayat karena mengharap ridah-Nya’.
Kisah ini juga bisa menjadi teladan bagi kita dalam menyikapi orang-orang yang berbuat jahat pada kita. Mungkin, kita tidak bisa sepenuhnya menjadi sebaik Rasulullah, tapi kita bisa terus mendoakan orang yang berbuat buruk agar Allah SWT lembutkan hatinya karena sejatinya senja seorang muslim adalah doa.
Rasulullah SAW bersabda,
الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ
“Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.” (HR. Al-Hakim)
Jadi, itulah hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Muhammad SAW dan pengemis buta.
Baca Juga: Siap Menyambut Ramadhan! Ini Ide Menu Buka Puasa untuk Bulan Ramadhan
Penulis: Annisa Adelina Sumadillah
