Beritaislam.com – Tidak dihargai orang lain adalah hal yang biasa karena kita tidak pernah bisa mengontrol perilaku seseorang dalam bersikap. Kita sering kali merasa mengalah sudah dilakukan, sabar juga sudah, tidak banyak tuntutan juga sudah. Lalu apa yang kurang?
Kita selalu berpikir bahwa merasa diri kurang baik kepada orang lain padahal sudah memberikan semuanya. Sebenarnya siapa yang salah? Kenapa kita tetap tidak dihargai meskipun sudah berbuat baik? Apa kebaikan kita masih kurang di mata orang lain?
Yuk kenali bagaimana Islam memandang sikap tidak dihargai orang lain ini!
Tidak Dihargai Orang Lain, Apakah Tanda Kurang Baik?
Tidak dihargai orang lain ketika sudah melakukan kebaikan apakah kita salah? Kenapa ucapan terima kasih tidak terdengar? Apakah sebenarnya kita tidak layak dihargai meskipun sudah melakukan kebaikan?
Kita mungkin sering kali bertanya-tanya mengenai hal tersebut. Kita terkadang hanya fokus terhadap penilaian orang lain padahal Allah SWT menilai setiap kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun itu.
Bukan kita yang tidak layak untuk dihargai orang lain, tetapi terkadang kita lah yang menaruh harap pada hati yang salah. Setiap bentuk kebaikan sekecil apapun adalah hal yang baik jika dinilai dengan mata yang tepat.
Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
مَا كَانَ لِاَهْلِ الْمَدِيْنَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِّنَ الْاَعْرَابِ اَنْ يَّتَخَلَّفُوْا عَنْ رَّسُوْلِ اللّٰهِ وَلَا يَرْغَبُوْا بِاَنْفُسِهِمْ عَنْ نَّفْسِهٖۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ لَا يُصِيْبُهُمْ ظَمَاٌ وَّلَا نَصَبٌ وَّلَا مَخْمَصَةٌ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَطَـُٔوْنَ مَوْطِئًا يَّغِيْظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُوْنَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلًا اِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهٖ عَمَلٌ صَالِحٌۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: “Tidak sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka untuk tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak pantas (pula) bagi mereka untuk lebih mencintai diri mereka daripada (mencintai) dirinya (Rasulullah). Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah; tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir; dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)
Kalau kebaikan kita tidak dihargai orang lain, ingatlah jika kebaikan sekecil apapun di hadapan Allah SWT pasti ada ganjarannya. Kita pasti akan lelah jika selalu memaksa orang lain untuk memvalidasi kebaikan kita.
Bagi orang yang menganggap sebelah mata, usaha dan kebaikan kita itu pasti selalu salah dan dianggap bukan apa-apa. Sebesar apapun kebaikan kita pasti hanya akan dipandang sebelah mata di hati orang yang tidak menyukai kita.
Seperti halnya ucapan Ali bin Abi Thalib, “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.”
Semakin keras kita berusaha untuk mendapatkan validasi dari orang lain maka juga akan semakin besar pula rasa kecewa yang dihasilkan karena kita terlalu berharap.
Lain halnya jika kita cuma cari perhatian ke Allah SWT maka semua kebaikan akan terasa jauh lebih ringan karena kita paham jika Allah SWT akan membalas semuanya baik itu di dunia maupun di akhirat.
Itulah tadi pembahasan mengenai tidak dihargai orang lain dalam pandangan Islam. Akan selalu ada para pembenci, sekeras apapun kita membuktikan dan meyakinkan tentang kebaikan yang kita lakukan.
Tetapi Allah SWT selalu mencatat setiap amal kebaikan kita tanpa dikurangi maupun dilebihkan. Jangan pernah mengukur nilai diri kita dari validasi orang lain. Tetaplah berbuat baik tanpa henti meskipun dengan atau tidak adanya pengakuan dan tidak dihargai orang lain.
Baca Juga: Jenazah Mati Syahid Tidak Dimandikan, Dikafani, Disalatkan, Benarkah Demikian?
Penulis: Suci Wulandari
