Beritaislam.com – Ramai di media sosial mengenai emotional intelligence yang saat ini menjadi sebuah standar dalam memilih pasangan. Bahkan, kriteria ini telah ditetapkan sebagai hal yang mutlak yang wajib dimiliki oleh setiap orang.
Emotional intelligence merupakan kecerdasan emosional yang dimiliki oleh seseorang dalam mengontrol dan mengelola emosinya dengan baik. Sebenarnya sepenting apa seseorang mempunyai pemikiran ini? Apa kaitannya dengan Islam?
Mari kita bahas lebih lanjut!
Relevansi Emotional Intelligence dan Islam
DI kehidupan ini tentu banyak sekali konflik atau drama yang sering terjadi karena kita hidup saling berdampingan dengan manusia yang lainnya. Konflik bisa lahir bukan karena seseorang kurang pintar melainkan gagal mengelola emosinya.
Oleh sebab itu, saat ini emotional intelligence menjadi sebuah standar baru dalam mencari pasangan. Banyak yang menginginkan setiap pasangan mampu mengontrol emosinya dan cerdas dalam menyelesaikan masalah.
Tak jarang, banyak sekali orang yang pintar dalam berbicara tetapi mudah sekali untuk marah. Banyak ilmu dan pengetahuan yang dimiliki tetapi dalam hubungannya dengan manusia lain sangatlah buruk. Masalah intinya adalah terletak pada kecerdasan emosional yang dimilikinya.
Ketika emotional intelligence yang dimiliki seseorang itu rendah, maka konflik kecil bisa berubah menjadi besar, kritikan dianggap membenci, perbedaan sering dikatakan bermusuhan, dan pada akhirnya emosi akan mengalahkan akal pikirannya sendiri.
Maka dari itu, banyak hal berantakan sebenarnya bukan hanya karena kita tidak mengikuti aturan yang ada, melainkan juga karena emosional kita yang tidak terkendali. Dalam Islam, seseorang wajib memiliki kecerdasan emosional.
Kecerdasan emosional itu harus dididik dan terus dilatih. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali-Imran: 134)
Dalam ayat diatas menjelaskan jika seseorang yang menahan amarah atau kemurkaannya bukanlah tanda bahwa dirinya adalah orang yang lemah, tetapi merupakan sebuah tanda kedewasaan akal pikirannya.
Islam melatih kecerdasan emosional manusia melalui cara sabar, tafakkur, berdzikir, dan juga adab ketika berbicara dengan seseorang. Islam tidak hanya membentuk kecerdasan emosional seseorang melalui teori semata, melainkan juga lewat latihan kebiasaan sehari-hari.
Emotional intelligence bukan berarti seseorang tidak memiliki emosi, melainkan seseorang yang mampu mengendalikan emosinya dengan baik. Nabi Muhammad SAW bersabda:
ليس الشديد بالصرعة، إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب
Artinya: “Bukanlah orang yang kuat itu yang bisa menang dalam adu kekuatan, tetapi orang yang kuat adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah.” (Hadist Riwayat Bukhari)
Marah merupakan sebuah bentuk emosi yang dapat menghancurkan diri kita. Namun, jika mampu mengontrol dan mengelolanya dengan baik, maka bisa membawa dampak yang positif. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan jika orang yang paling kuat bukanlah yang menang perdebatan, melainkan seseorang yang mampu menjaga hati dan emosinya.
Akal tanpa emosi yang matang akan menghancurkan, jika dikelola justru akan membimbing dan membawa dampak perubahan dalam kehidupan. Apabila seorang muslim mampu menahan amarahnya dan bersabar, maka akan menciptakan kehidupan yang damai dan tenang.
Memaafkan kesalahan orang lain dan dapat bersikap dengan bijaksana bukanlah sebuah tanda kelemahan, melainkan menyadarkan kita bahwa lebih baik menciptakan lingkungan yang penuh dengan cinta dan kasih sayang salah satu caranya adalah menghindari marah dan emosi yang meledak-ledak.
Itulah tadi pembahasan mengenai pentingnya memiliki emotional intelligence bagi setiap manusia. Pada dasarnya, emosi dan marah merupakan bentuk yang wajar bagi manusia. Namun jika seseorang tak mampu mengelolanya maka justru akan melukai dirinya sendiri.
Islam merupakan agama yang mencintai kedamaian dan kasih sayang. Alangkah baiknya ketika menghadapi orang lain, kita mampu menjaga adab dan sikap dalam berbicara sehingga tidak sampai melukai hati seseorang serta mampu menyelesaikan permasalahan dengan bijak dan penuh tanggung jawab.
Penulis: Suci Wulandari
