Beritaislam.com – Di tengah kehidupan sosial, sering terdengar ungkapan yang seolah bijak namun menyimpan kekeliruan serius, “Percuma salat kalau kelakuannya masih buruk.”
Kalimat ini kerap dilontarkan sebagai kritik moral, tetapi tanpa disadari justru mengaburkan kewajiban dasar dalam Islam. Alih-alih membimbing, ucapan ini sering membuat seseorang merasa tidak layak mendekat kepada Allah.
Perspesi Keliru Tentang Salat Dalam Masyarakat
Dalam Islam, salat adalah kewajiban mutlak bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Allah dengan tegas memerintahkan salat dalam banyak ayat, salah satunya dalam QS Al-Baqarah ayat 43,
وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ ٤٣
Artinya: Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.
Salat diperintahkan bagi seluruh umat muslim yang berakal dan telah balig. Muslim diperintahkan untuk menegakkan salat tanpa syarat harus “sudah baik” terlebih dahulu. Kewajiban ini berdiri sendiri dan tidak bergantung pada penilaian moral manusia.
Salat tetap wajib dilakukan, baik seseorang sedang berada dalam kondisi iman yang kuat maupun saat ia masih bergelut dengan banyak kekurangan.
Tidak ada dalil yang membenarkan meninggalkan salat karena merasa diri belum pantas atau karena perilaku belum sepenuhnya baik. Justru meninggalkan salat adalah bentuk kemaksiatan yang lebih besar daripada kekurangan akhlak yang sedang diperbaiki.
Memang benar, secara ideal salat berfungsi sebagai penjaga diri dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana disebutkan dalam QS Al-‘Ankabut ayat 45.
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ٤٥
Artinya: Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Namun ayat ini menjelaskan hikmah dan dampak salat, bukan syarat sah atau bolehnya seseorang menunaikan salat. Ketika dampak itu belum terlihat, yang perlu diperbaiki adalah kualitas salatnya, bukan dengan menghentikannya.
Narasi “percuma salat” sejatinya adalah bentuk keputusasaan yang dibungkus dengan nasihat. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menunggu sempurna sebelum taat. Perbaikan akhlak adalah proses, sementara salat adalah pondasi utama yang justru menopang proses tersebut.
Menyuruh orang meninggalkan salat karena perilakunya belum baik, sangat tidak diperbolehkan dan sama saja dengan memutus tali penghubungnya dengan Allah.
Dalam Islam, jalan kembali selalu dibuka, dan salat adalah salah satu pintu terpentingnya. Karena itu, seburuk apa pun keadaan seseorang, salat tetap harus ditegakkan, sambil terus berjuang memperbaiki diri.
Saat kamu melihat saudara muslimmu berbuat jahat, nasihatilah mereka bukan malah mencibirnya dengan menyakutkan pada syariat yang diwajibkan atasnya.
Baca Juga: Sulit Bangun Salat Subuh? Inilah Tips Supaya Salat Subuh Bisa Konsisten!
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
