Beritaislam.com – Di tengah semangat beragama yang meningkat, ada satu fenomena yang justru mengkhawatirkan yaitu saat agama malah dijadikan alat untuk menghakimi sesama. Ayat dan dalil dilontarkan bukan untuk menuntun, melainkan untuk memukul.
Akibatnya, pesan Islam yang seharusnya menenangkan berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Padahal sejak awal, Islam hadir bukan untuk mengusir manusia, melainkan merangkul mereka.
Dampak Saat Agama Dijadikan Senjata untuk Menghakimi
Saat agama dijadikan senjata untuk menghakimi maka akan banyak membawa dampak buruk diantaranya, pertama, orang yang belum mengenal agamanya dengan baik justru bisa semakin jauh, bahkan berpotensi membenci agama itu sendiri.
Ketika yang ia temui hanyalah celaan, cap buruk, dan vonis dosa, Islam tidak lagi tampak sebagai jalan hidayah, tetapi seolah ruang tertutup yang penuh ancaman.
Padahal Allah menegaskan bahwa Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Allah berfirman,
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧
Artinya: Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya: 107).
Ayat ini menunjukkan bahwa wajah Islam seharusnya menghadirkan kasih, bukan ketakutan. Dalam Al-Quran, Allah mengajarkan Nabi Musa AS untuk menasihati Firaun dengan lembut dan baik.
فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى ٤٤
Artinya: Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 44).
Orang bijak juga pernah berkata, jika firaun saja yang mengaku tuhan diperintahkan untuk dinasehati dengan cara yang baik, lantas mengapa kita harus begitu buruk pada saudara kita yang mungkin melakukan dosa karena tidak tahu?
Saat kamu melihat saudaramu melakukan kesalahan, maka nasehatilah dengan sebaik-baiknya nasihat yang tidak melukai apalagi mempermalukannya.
Kedua, semakin banyak orang yang ingin kembali kepada Allah justru merasa tidak pantas dan takut untuk mendekat. Ini menjadi dampak paling serius jika agama dijadikan senjata untuk menghakimi sesama.
Mereka yang merasa membawa dosa, luka, dan penyesalan, namun merasa pintu agama telah tertutup karena penghakiman manusia. Padahal Allah sendiri membuka pintu taubat selebar-lebarnya. Allah berfirman:
۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٥٣
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az- Zumar: 53).
Menghakimi justru berisiko menutup pintu yang Allah buka dan ini termasuk dosa besar dalam Islam.
Ketiga, saat agama dijadikan senjata untuk menghakimi sesama, maka bagi orang di luar Islam, perilaku menghakimi ini membentuk citra bahwa Islam adalah agama yang keras, buruk, dan menakutkan. Bukan ajarannya yang salah, tetapi cara sebagian pemeluknya yang keliru menampilkan agama.
Ketika dakwah kehilangan akhlak, maka pesan kebenaran pun kehilangan daya tariknya. Karena agama seharusnya menjadi jalan pulang, bukan palu penghakiman. Karena tugas manusia hanyalah menyampaikan, sementara urusan hidayah dan penilaian sepenuhnya milik Allah.
Jadi, itulah dampak berbahaya jika agama dijadikan senjata untuk menghakimi orang lain. Menasihati sesama memang menjadi tugas kita, tapi lakukanlah sebagaimana yang Rasulullah SAW ajarakan.
Baca Juga: Cara Meluruskan Niat Menyambut Ramadhan: Lakukan Hal Sederhana Ini
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
