Beritaislam.com – Dalam Islam, pertemanan bukan sekadar soal cocok atau nyaman, tetapi juga tentang arah. Rasulullah mengingatkan bahwa seseorang akan mengikuti agama dan kebiasaan teman dekatnya. Karena itu, lingkar pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir, bersikap, bahkan cara memaknai hidup.
Sayangnya, tidak semua pertemanan yang terlihat baik di luar benar-benar membawa kebaikan di dalam. Ada pertemanan yang penuh tawa dan kebersamaan, tetapi pelan-pelan menjauhkan seseorang dari tanggung jawab dunia maupun akhirat. Inilah bentuk pertemanan toxic yang sering tidak disadari, karena tidak hadir dalam bentuk konflik, melainkan kelalaian.
Tanda Pertemanan Toxic Dalam Islam
Pertama, pertemanan tersebut membuat seseorang lalai, baik dalam urusan akhirat maupun dunia. Waktu banyak habis untuk hiburan semata, obrolan ringan tanpa makna, dan kesenangan sesaat.
Tanpa terasa, kewajiban ditunda, target hidup kabur, dan semangat beribadah maupun bekerja ikut menurun. Padahal, Islam mengajarkan agar waktu dijaga dan dimanfaatkan untuk hal yang bernilai.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ٩
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. Al-Munafiqun: 9)
Kedua, pertemanan toxic membuat kesalahan terasa wajar dan dibenarkan. Saat seseorang melakukan hal yang keliru, bukannya diingatkan, justru divalidasi.
Tidak ada nasihat, tidak ada koreksi, sehingga hati menjadi tumpul dan tidak sadar bahwa dirinya sedang berada di jalan yang salah. Dalam Islam, saling menasihati dalam kebenaran adalah bentuk kasih sayang, bukan penghakiman.
Allah SWT berfirman,
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyaat: 55)
Ketiga, pertemanan ini mendorong pola pikir yang hanya berorientasi pada senang-senang. Tidak ada dorongan untuk belajar, memperbaiki diri, atau bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.
Aktivitas bermanfaat dianggap berat, sementara kesia-siaan terasa biasa. Jika sebuah pertemanan menjauhkan dari proses grow up dan amal yang bernilai, maka ia patut dipertanyakan.
Pada akhirnya, pertemanan yang baik dalam Islam adalah yang mendekatkan pada kebaikan, bukan sekadar membuat nyaman. Karena teman sejati bukan hanya yang menemani tawa, tetapi juga yang membantu kita tetap berada di jalan yang benar.
Baca Juga: Sering Bodoh Saat Jatuh Cinta? Mengapa Kita Melakukannya? Inilah Penjelasan Al-Qur’an dan Psikologi!
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
