Beritaislam.com – Ketika kita sudah mulai memasuki usia 18 sampai 29 tahun maka akan mengalami yang namanya fase emerging adulthood. Fase ini merupakan fase dimana seseorang mulai beranjak pada usia remaja sampai dewasa yang mulai rentan mengalami krisis identitas.
Emerging adulthood akan membuat seseorang akan lebih mudah overthinking, merasa menghadapi banyak tekanan sosial, dan kehilangan arah dalam hidup. Kita akan mengalami perubahan secara tiba-tiba, dituntut untuk dewasa oleh usia dan keadaan namun sepenuhnya belum siap untuk menghadapinya.
Lalu bagaimana pandangan Islam mengenai emerging adulthood ini? Yuk simak lebih lanjut!
Emerging Adulthood dalam Pandangan Islam
Ketika seseorang memasuki usia 20 tahunan pasti akan merasakan sebuah transisi yang paling membingungkan dalam kehidupan. Kita merasa bukan lagi anak-anak, namun juga belum stabil jika dikatakan dewasa.
Banyak sekali pilihan yang harus dipilih, banyak tuntutan yang datang sementara diri sendiri masih kebingungan dalam menentukan “ini sebenarnya arahnya kemana?”
Ketika memasuki emerging adulthood maka seseorang akan berada dalam pencarian makna hidup yang pada akhirnya membuat dirinya rentan mengalami overthinking. Secara neurologis, prefrontal cortex bagian otak yang mengatur perencanaan jangka panjang baru matang secara penuh di usia 20 tahunan.
Di usia 20 tahunan ketika sistem pengendalian risiko belum sepenuhnya stabil, kita justru diminta mengambil keputusan yang besar. Ditambah lagi kehidupan di sosial media milik orang lain yang menunjukkan pencapaiannya maka akan merasa bahwa diri kita belum mencapai apa-apa.
Padahal seseorang yang sering overthinking dan gelisah bukan berarti orang itu lemah dan gagal. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ
Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Ayat diatas menegaskan bahwasannya sejak manusia diciptakan dan terlahir di muka bumi memang dalam keadaan tidak tenang. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ
Artinya: “Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Tidak semua overthinking dan kegelisahan adalah bentuk dari kesalahan, namun sebagian juga merupakan proses pembentukan. Fase emerging adulthood memang bukan proses yang mudah, namun setiap manusia pasti akan sampai di titik ini.
Fase tersebut bukan untuk disesali atau dianggap hal yang berat karena Allah SWT lebih mengetahui porsi kemampuan dari masing-masing hamba-Nya. Justru, fase ini akan mengajarkan banyak hal terutama perihal penerimaan diri, keikhlasan, perjuangan dan kerja keras.
Ketika hal berat dan kegagalan hanya dianggap sebagai cobaan, maka tentu saja akan selalu terasa berat. Namun, jika kita berusaha untuk bangkit dan mencoba untuk berserah diri kepada Allah SWT, maka fase ini dapat kita lewati dengan mudah.
Fase emerging adulthood memang terasa seperti sebuah medan pertempuran yang menakutkan, semua orang terlihat jauh lebih cepat melangkah, kita masih saja bertanya tentang arah.
Islam tidak akan pernah menjanjikan hamba-Nya untuk hidup dengan penuh kegelisahan dan kebingungan, justru Islam memberikan arah ketika manusia hilang arah dan merasa berjalan sendirian.
Itulah tadi pembahasan mengenai fase emerging adulthood dalam Islam. Overthinking tidak selalu berarti tanda seseorang lemah, terkadang itu juga merupakan sebuah tanda jika seseorang masih menyesuaikan diri dalam pencarian makna kehidupan yang sesungguhnya.
Paling terpenting adalah, kita tidak pernah salah mengambil jalan pulang untuk kembali yakni hanya kepada Allah SWT. Alangkah baiknya kita senantiasa mencintai segala proses dan perjalanan hidup supaya jauh lebih bermakna.
Baca Juga: Masuk Neraka Lewat Jalur Stiker WhatsApp? Inilah Menurut Pandangan Islam!
Baca Juga: Suci Wulandari
