Beritaislam.com – Ramadhan sering datang tanpa benar-benar kita sadari kesiapan batin kita. Banyak orang bersemangat menyambutnya, tetapi lupa memastikan satu hal paling mendasar yaitu niat.
Rasulullah SAW bersabda,
ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Artinya: “Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Niat begitu penting dalam beribadah seperti puasa, maka penting sebelum menyambut Ramadhan, harus terlebih dahulu meluruskan niat. Lantas bagaimana cara meluruskan niat menyambut ramadhan?
Cara Meluruskan Niat Menyambut Ramadhan
Pertama, memperbanyak belajar tentang fiqih puasa. Dalam sejarah Islam, diriwayatkan bahwa para sahabat telah mempersiapkan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dengan mempelajari fiqih puasa.
Ilmu membuat kita jadi lebih khusyuk dalam menjalani ibadah. Dengan memahami hukum, rukun, dan makna puasa, seseorang akan lebih terarah dalam beribadah. Selain itu, Ilmu membantu hati fokus, sehingga cara meluruskan niat menyambut ramadhan tidak berhenti pada semangat sesaat, tetapi berakar pada pemahaman yang benar.
Kedua, memahami bahwa puasa adalah bentuk ibadah kepada Allah, bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa bukan hanya soal jam makan yang berubah atau rutinitas yang bergeser, melainkan latihan menahan hawa nafsu dan menjaga diri dari hal-hal yang dilarang.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa puasa diwajibkan agar manusia bertakwa.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al- Baqarah: 183)
Kesadaran pemahaman ini penting agar Ramadhan tidak direduksi menjadi rutinitas tahunan tanpa makna yang merupakan cara meluruskan niat menyambut ramadhan, yakni mengembalikan orientasi ibadah sepenuhnya kepada Allah.
Ketiga, memperbanyak doa agar Allah menjaga dan meneguhkan hati. Hati manusia berada di tangan Allah, mudah berbolak-balik tanpa disadari. Karena itu, meluruskan niat tidak cukup dengan usaha diri sendiri.
Sebagai seorang muslim hendaknya kita meminta Allah meneguhkan hati do atas agama Allah. Dengan memperbanyak doa, kita juga mengakui keterbatasan diri sekaligus berharap Allah menjaga niat tetap lurus selama Ramadhan berlangsung.
Jadi, itulah cara meluruskan niat menyambut ramadhan tidak membutuhkan persiapan besar, tetapi kesungguhan hati. Ilmu, kesadaran makna ibadah, dan doa yang terus dipanjatkan menjadi bekal agar Ramadhan tidak hanya dijalani, tetapi benar-benar dihayati.
Baca Juga: Siap Menyambut Ramadhan! Ini Ide Menu Buka Puasa untuk Bulan Ramadhan
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
