Beritaislam.com – Hujan dalam Islam, bukan sekadar peristiwa alam, melainkan bagian dari tanda kebesaran Allah yang sarat makna. Sayangnya, tak sedikit manusia yang hanya melihat hujan sebagai cuaca, bukan sebagai pesan.
Islam mengajarkan bahwa setiap tetes hujan membawa hikmah. Ia bisa menjadi rahmat, waktu terbaik doa cepat terkabul, sekaligus peringatan bagi manusia yang lalai. Cara seorang muslim memandang hujan mencerminkan bagaimana ia membaca tanda-tanda dari Rabb-nya melalui alam semesta.
Fenomena Hujan Dalam Islam
Dalam banyak ayat Al-Qur’an, hujan disebut sebagai tanda kekuasaan Allah atas langit dan bumi. Ia diturunkan sesuai kehendak-Nya, dengan kadar dan waktu yang telah diatur.
Allah SWT berfirman,
وَهُوَ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًا ۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَاَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاۤءَ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۗ كَذٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتٰى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ٥٧
Artinya: Dialah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira yang mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan) sehingga apabila (angin itu) telah memikul awan yang berat, Kami halau ia ke suatu negeri yang mati (tandus), lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang mati agar kamu selalu ingat. (QS. Al- Ara’f: 57)
Allah SWT juga berfirman,
وَالَّذِيْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍۚ فَاَنْشَرْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًاۚ كَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ ١١
Artinya: Yang menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu dengan air itu Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). (QS. Az-Zukhruf: 11)
Hujan merupakan bagian dari sistem ketetapan Ilahi yang sempurna yang kerap dimaknai sebagai rahmat yang menghidupkan tanah yang mati, menumbuhkan tanaman, dan menjadi sebab keberlangsungan hidup makhluk.
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ ٩
Artinya: Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen. (Qaf:9)
Karena itulah, hujan sering dipandang sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, terutama ketika ia turun membawa manfaat.
Hujan juga memiliki keistimewaan sebagai waktu yang penuh harap. Dalam suasana langit terbuka dan bumi yang basah, doa-doa dipanjatkan dengan hati yang lebih lembut. Di saat itulah seorang muslim diajak untuk lebih dekat, bukan mengeluh.
Namun, hujan tidak selalu datang dalam wajah yang menenangkan. Pada kondisi tertentu, ia berubah menjadi ujian bagi umat manusia. Sehingga jauh-jauh hari Rasulullah sudah mengingatkan manusia untuk berdoa memohon hujan yang berkah lagi membawa manfaat.
Rasulullah SAW bersabda,
اللَّهُمَّ صَيِّباً نافِعاً
Artinya: “Duhai Allah, turunkanlah pada kami hujan (lebat) yang bermanfaat.” (HR. Al- Bukhari).
Saat hujan datang dalam bentuk ujian seperti banjir, longsor, dan kerusakan alam, Islam mengajarkan agar kondisi ini tidak semata disalahkan pada hujan, melainkan dijadikan bahan muhasabah atas peran manusia sebagai khalifah di muka bumi.
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al- Baqarah: 30)
Begitulah hujan dalam Islam yang merupakan bahasa langit. Hujan mampu berbicara dengan caranya sendiri pada setiap hamba yang berpikir. Lantas, sudahkah kita memahami pesan yang sedang Allah sampaikan melalui hujan?
Baca Juga: 4 Sunah yang Bisa Dilakukan Saat Hujan
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
