Berita Islam Terkini
  • Beranda
  • Info Islami
  • Hukum Islam
  • Tokoh
  • Keutamaan
  • Khazanah
  • Hikmah
Donasi
Berita Islam TerkiniBerita Islam Terkini
Aa
  • Beranda
  • Info Islami
  • Hukum Islam
  • Tokoh
  • Keutamaan
  • Khazanah
  • Hikmah
Cari Berita
  • Beranda
  • Info Islami
  • Hukum Islam
  • Tokoh
  • Keutamaan
  • Khazanah
  • Hikmah
Follow US

Home - kebijakan pemimpin - Kebijakan Pemimpin yang Zalim dan Menyengsarakan Rakyat, Awas Kelak Dipersulit di Akhirat!

Info Islami

Kebijakan Pemimpin yang Zalim dan Menyengsarakan Rakyat, Awas Kelak Dipersulit di Akhirat!

Suci Wulandari
Last updated: 2025/09/12 at 1:31 PM
Suci Wulandari
Share
Kebijakan Pemimpin yang Zalim dan Menyengsarakan Rakyat, Awas Kelak Dipersulit di Akhirat!
SHARE

Beritaislam.com – Segala aspek kehidupan di dunia ini diatur oleh sebuah aturan dan kebijakan agar seseorang tidak melanggar hak orang lain atau bisa berbuat semena-mena. Untuk mengatur aturan tersebut, maka diangkatlah seorang pemimpin yang ditunjuk sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di tangan rakyat.

Contents
Prinsip Kebijakan Pemimpin dalam Pandangan Islam1. Prinsip Ilahiah (Ketuhanan)2. Prinsip Insaniah (Kemanusiaan)3. Prinsip Tawazun (Keseimbangan)4. Prinsip Al-’Adalah (Keadilan)5. Prinsip Al-Khadimah (Pelayanan)6. Prinsip Uswah Al-Hasanah (Keteladanan)

Kebijakan pemimpin yang telah dibuat haruslah dipatuhi. Namun ketika pemimpin berbuat zalim, apakah kita tetap wajib patuh? Pemimpin hadir sebagai seorang yang dapat dipercaya dalam mengemban amanah dan dapat menyelesaikan segala permasalahan rakyatnya. 

Oleh karena itu, sebuah negara diharapkan dipimpin oleh seorang pemimpin yang adil agar semua hal bisa berjalan tertib sesuai dengan kebijakan yang telah dibuat sebelumnya. Kebijakan publik yang dibuat pemimpin harus bisa memberikan kemaslahatan dan kebermanfaat pada umat agar hak-haknya tidak diciderai.

Prinsip Kebijakan Pemimpin dalam Pandangan Islam

Islam memandang setiap manusia memiliki kedudukan yang sama dan menerapkan kebijakan yang selalu mengutamakan kebermanfaat. Berikut ini adalah prinsip kebijakan dalam pandangan Islam:

1. Prinsip Ilahiah (Ketuhanan)

Setiap kebijakan pemimpin yang dibuat harus mempertimbangkan orientasi ketuhanan dalam aktivitas dan perumusannya.

2. Prinsip Insaniah (Kemanusiaan)

Kebijakan pemimpin yang dibuat harus bisa juga mempertimbangkan prinsip kebermanfaat bagi umat bagi di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.

3. Prinsip Tawazun (Keseimbangan)

Kebijakan pemimpin yang dibuat harus tetap mempertimbangkan prinsip keseimbangan dan proporsional.

4. Prinsip Al-’Adalah (Keadilan)

Kebijakan pemimpin yang dibuat harus bisa mempertimbangkan keadilan yang merata dan sama serta tepat sasaran sesuai dengan prinsip ketuhanan dan kemanusiaan.

5. Prinsip Al-Khadimah (Pelayanan)

Kebijakan pemimpin yang dibuat harus bisa berorientasi pada pelayanan yang baik dan konsisten kepada rakyatnya.

6. Prinsip Uswah Al-Hasanah (Keteladanan)

Seorang pemimpin merupakan contoh bagi rakyatnya. Jika pemimpin tersebut bertanggung jawab, adil, dan peduli kepada rakyat maka pemimpin tersebut dapat dikatakan sebagai pemimpin yang baik dan bisa dijadikan sebagai teladan.

Ajaran Islam mencakup segala lini kehidupan termasuk dalam hal kepemimpinan. Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (Hadist Riwayat Bukhari-Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Setiap manusia pada fitrahnya memang sudah menjadi seorang pemimpin. Sama halnya seorang bos memimpin karyawannya, seorang suami memimpin istrinya, dan sebagainya. Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban saat di akhirat kelak. 

Sama halnya sebagai seorang pemimpin di suatu negara pun juga akan dimintai pertanggung jawaban terhadap rakyatnya di akhirat. 

Berkaitan dengan kebijakan pemimpin atau penguasa atau pemerintah, dalam kaidah fiqih, disebutkan kaidah:

تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة

Artinya: “Kebijakan imam/pemerintah bagi rakyat harus berdasar maslahah,”

Kaidah ini memberi dasar bagi pemerintah dalam membuat kebijakan pemimpin, dengan sistem apapun harus berdasar atas sebuah kemaslahatan semua lapisan masyarakat. Kaidah ini berdasar firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” (QS An-Nisa’: 58)

Rasulullah SAW bersabda: 

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Artinya: “Tiada seorang yang diamanati Allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati, ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti Allah mengharamkan baginya surga,” (Hadist Riwayat Bukhari)

Allah SWT merupakan raja dari segala raja dan penguasa alam semesta. Allah SWT tidak akan pernah menyulitkan hamba-Nya. 

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ

Artinya: Allah SWT menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. (QS. Al-Baqarah: 185)

Oleh sebab itu, tidak layak jika seorang pemimpin yang merupakan manusia mempersulit dan zalim terhadap urusan manusia yang lainnya. Bahkan Rasulullah SAW saja selalu memberikan jalan keluar yang mudah karena diutus oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku menjadi orang yang mempersulit (masalah) dan orang-orang mencari-cari kesulitan, tetapi sebagai pendidik yang memudahkan.” (Hadist Riwayat Muslim no. 29)

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadist lain: “Barang siapa yang memberikan kemudaratan kepada seorang muslim, maka Allah akan memberika kemudaratan kepadanya, barang siapa yang merepotkan (menyusahkan) seorang muslim maka Allah akan menyusahkan dia.” (Hadist Riwayat Abu Dawud no. 3635, Tirmizi no. 1940, dan dihasankan oleh Imam Tirmizi)

Seorang pemimpin yang membuat kebijakan dilarang menyusahkan rakyatnya karena kelak para pemimpin di akhir zaman akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang dia pimpin. 

Dalam hadist lain Rasulullah SAW pernah berdoa: “Ya Allah, barang siapa yang mengurusi urusan umatku kemudian dia merepotkan umatku maka susahkanlah dia.” (hadist Riwayat Muslim no. 1828)

Itulah tadi prinsip kebijakan pemimpin dalam pandangan Islam. Sebagai seorang pemimpin hendaklah dia bisa amanah untuk mengatur urusan rakyatnya dengan memberikan kemudahan pada setiap urusan sehingga rakyatnya tidak merasa dizalimi karena doa orang yang terzolimi juga dapat diijabah oleh Allah SWT. 

Baca Juga: 5 Ciri Orang Munafik dalam Islam: Tercatat dalam Al Quran dan Hadits

Penulis: Suci Wulandari

TAGGED: kebijakan pemimpin, amanah
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Previous Article 5 Ciri Orang Munafik dalam Islam: Tercatat dalam Al Quran dan Hadits 5 Ciri Orang Munafik dalam Islam: Tercatat dalam Al Quran dan Hadits
Next Article 5 Ciri Orang Meninggal Husnul Khotimah: Tanda Akhir Hayat Muslim yang Beriman 5 Ciri Orang Meninggal Husnul Khotimah: Tanda Akhir Hayat Muslim yang Beriman

Recent Posts

  • Hukum Menelan Dahak Saat Puasa Ramadhan, Apakah Membatalkan Puasanya? Inilah Pandangan Islam!
  • Kerja Keras Tanpa Henti, Namun Hati Malah Terasa Hampa dan Kosong? Inilah Penjelasannya!
  • Menikah Saat Bulan Ramadhan: Boleh atau Tidak dalam Hukum Islam?
  • Puasa Ramadhan Tanpa Sahur, Bagaimana Hukumnya dalam Islam? Apakah Puasanya Tetap Sah?
  • Fenomena Mokel Saat Puasa Ramadhan Tanpa Uzur Syar’i, Inilah Pandangan Islam!

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

You Might Also Like

Kerja Keras Tanpa Henti, Namun Hati Malah Terasa Hampa dan Kosong? Inilah Penjelasannya!
Info Islami

Kerja Keras Tanpa Henti, Namun Hati Malah Terasa Hampa dan Kosong? Inilah Penjelasannya!

4 Min Read
Peran Ulama Perempuan dalam Kultum Ramadhan: Meneladani Sosok Sayyidah Aisyah RA
Info IslamiKeislaman

Peran Ulama Perempuan dalam Kultum Ramadhan: Meneladani Sosok Sayyidah Aisyah RA

4 Min Read
Qadha Puasa Ramadhan atau Puasa Syawal Terlebih Dahulu? Inilah Penjelasannya!
Info IslamiKeutamaan

Qadha Puasa Ramadhan atau Puasa Syawal Terlebih Dahulu? Inilah Penjelasannya!

5 Min Read
Ingin Hidup Sehat Saat Puasa Seperti Rasulullah? Berikut Tips dan Teladannya
ArtikelInfo Islami

Ingin Hidup Sehat Saat Puasa Seperti Rasulullah? Berikut Tips dan Teladannya

4 Min Read

Merentangkan Sayap Islam: Menyajikan Berita Terkini dari Berbagai Penjuru

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?