Beritaislam.com – Dalam perspektif Islam, aktivitas menulis novel juga dapat bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat dan cara yang benar oleh penulis novel.
Seorang penulis novel memiliki peluang besar untuk menanamkan nilai kebaikan yang manfaatnya terus mengalir, bahkan setelah ia wafat.. Novel bisa menjadi sarana dakwah yang halus, menyentuh, dan relevan dengan kehidupan pembaca tanpa harus menggurui.
Cara Penulis Novel Mendapat Pahala Jariyah dari Tulisan
Cara penulis novel mendapatkan pahala jariyah adalah dengan menulis karya yang mampu memotivasi pembacanya menuju kebaikan.
Motivasi ini tidak selalu harus berbentuk nasihat langsung, melainkan bisa hadir melalui karakter, konflik, dan penyelesaian cerita yang mengajarkan nilai kesabaran, kejujuran, keikhlasan, atau perjuangan hidup yang positif.
Ketika pembaca tergerak untuk menjadi pribadi yang lebih baik karena sebuah novel, maka penulisnya turut memperoleh pahala dari perubahan tersebut.
“Barang siapa yang menunjukkan kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR.Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa penulis novel yang menghadirkan kebaikan dalam karyanya termasuk orang yang menunjukkan jalan kebaikan kepada orang lain.
Kedua, penulis yang membuat novel yang memberikan nasihat pada pembaca, dan tidak membuat manusia terlena.
Karena semua yang ada pada diri manusia kelak akan dipertanggungjawabkan, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surah Al-A’raf :179,
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ ١٧٩
Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. Tulisan yang mengandung pesan moral yang baik dan tidak melenceng dari norma agama dan sosial juga menjadi sumber pahala.
Penulis novel juga perlu berhati-hati agar tidak menulis hal-hal yang membangkitkan hawa nafsu atau membawa pembaca pada khayalan yang tidak benar.
Tulisan yang mengumbar syahwat, menormalisasi perilaku menyimpang, atau menjauhkan pembaca dari realitas nilai yang sehat justru bisa menjadi sumber dosa jariyah. Manusia hendaknya selalu menjaga pandangan.
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٣١
Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)
Lebih jauh, menulis sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam juga perlu dihindari. Seorang penulis novel Muslim idealnya menjadikan akidah dan akhlak sebagai batas dalam berkarya.
Ini tidak berarti karya menjadi kaku atau kehilangan daya tarik, melainkan justru memiliki kedalaman makna dan arah yang jelas. Allah SWT berfirman,
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al-Ma’idah: 2).
Dengan niat yang lurus dan konten yang bertanggung jawab, penulis novel tidak hanya menciptakan hiburan, tetapi juga meninggalkan warisan kebaikan.
Tulisan yang dibaca lintas generasi dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, menjadikan pena sebagai jalan mendekat kepada ridha Allah SWT.
Jadi, itulah beberapa cara penulis novel bisa mendapatkan pahala jariyah.
Baca Juga: Menulis Menggunakan AI dalam Pandangan Islam: Apakah Termasuk Curang?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah
