BERITAISLAM.COM – Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah, salah satunya dengan berpuasa di hari-hari mulia bulan Dzulhijjah. Di antara puasa sunnah yang banyak dilakukan adalah puasa Tarwiyah dan Arafah. Meskipun sering disandingkan, keduanya memiliki perbedaan dari segi waktu, keutamaan, dan niat. Lalu, apa sebenarnya perbedaan antara puasa Tarwiyah dan Arafah? Kapan waktu terbaik menjalankannya? Dan bagaimana niatnya? Simak artikel berikut untuk penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Puasa Tarwiyah?
Puasa Tarwiyah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah, satu hari sebelum puasa Arafah dan dua hari sebelum Idul Adha. Kata “Tarwiyah” berasal dari kata “rawa-yarwi” yang berarti membawa air atau menyiapkan air, karena pada hari itu jamaah haji mulai bersiap-siap menuju Mina dan mengisi persediaan air. Disebutkan dalam salah satu hadist:
“Barangsiapa berpuasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan, untuk puasa pada hari Tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari Arafah seperti puasa dua tahun.” (HR. Ali Al-Muairi, At-Thibbi, Abu Sholeh, dan Ibnu Abbas).
Apa Itu Puasa Arafah?
Puasa Arafah dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, tepat satu hari sebelum Idul Adha. Nama “Arafah” merujuk pada hari ketika jamaah haji melakukan wukuf di Padang Arafah momen paling agung dalam rangkaian ibadah haji. Puasa ini sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan haji. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)
Pahala yang besar ini menjadikan puasa Arafah sebagai salah satu ibadah sunnah yang sangat utama.
Perbedaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Ini dia perbedaan puasa tarwiyah dan arafah:
- Waktu Pelaksanaan
Perbedaan pertama terletak pada waktu pelaksanaan. Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, sedangkan puasa Arafah dilakukan tepat keesokan harinya, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Kedua puasa ini berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah. Hari Tarwiyah adalah saat jamaah haji mulai bergerak dari Mekah menuju Mina untuk memulai rangkaian ibadah haji. Sedangkan Hari Arafah adalah puncaknya ibadah haji, di mana jamaah berkumpul dan berwukuf di Padang Arafah.
- Tingkat Keutamaan dan Anjuran
Dari segi keutamaan, puasa Arafah memiliki kedudukan yang lebih kuat dibandingkan puasa Tarwiyah. Puasa Arafah sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW bagi umat islam yang tidak sedang menunaikan haji. Dalam hadits riwayat Muslim, Nabi bersabda bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sementara itu, puasa Tarwiyah tetap dianggap sebagai ibadah sunnah yang baik dan dianjurkan bagi umat muslim.
- Orang yang Melaksanakan
Perbedaan ketiga adalah siapa yang dianjurkan melaksanakan puasa tersebut. Puasa Arafah hanya disunnahkan untuk umat islam yang tidak sedang berhaji. Hal ini karena jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah dianjurkan untuk tidak berpuasa agar mereka memiliki tenaga dan kekuatan untuk menjalani puncak ibadah haji. Sebaliknya, puasa Tarwiyah boleh dilaksanakan oleh siapa saja, baik jamaah haji maupun yang tidak berhaji. Meskipun tidak wajib, puasa ini dianggap sebagai bentuk persiapan spiritual menuju hari yang lebih besar, yaitu Arafah dan Idul Adha.
Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah
Meskipun puasa sunnah tidak wajib dilafalkan, kita tetap dianjurkan untuk meniatkan di dalam hati. Namun, berikut ini adalah niat puasa tarwiyah dan arafah:
- Niat Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah):
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i tarwiyata sunnatan lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah hari ini karena Allah ta’âlâ.”
- Niat Puasa Arafah (9 Dzulhijjah):
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i arafata sunnatan lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Arafah hari ini karena Allah ta’âlâ.”
Niat boleh dilakukan mulai malam hari hingga sebelum tergelincir matahari (jika belum makan dan minum), sebagaimana ketentuan puasa sunnah.
Bolehkah Menjalankan Keduanya?
Tentu saja boleh. Bahkan sangat dianjurkan untuk berpuasa baik pada hari Tarwiyah maupun Arafah, apalagi jika mampu melanjutkannya dari awal Dzulhijjah. Ini menjadi bentuk kesungguhan dalam menghidupkan hari-hari yang sangat dicintai Allah SWT.
Itu dia perbedaan puasa Tarwiyah dan Arafah. Puasa Tarwiyah dan Arafah adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan menjelang Idul Adha, terutama bagi umat islam yang tidak sedang berhaji. Keduanya dilakukan di tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah, dengan pahala yang luar biasa besar. Mari manfaatkan hari-hari mulia ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menyiapkan hati menyambut Idul Adha dengan penuh keberkahan.
Baca Juga: Bolehkah Qurban untuk Orang yang Sudah Meninggal? Ini Hukumnya
