Beritaislam.com – Ungkapan “semua agama mengajarkan kebaikan” sering kali dilontarkan sebagai jalan tengah dalam perbincangan lintas keyakinan. Kalimat ini terdengar menenangkan, seolah mampu meredam perbedaan dan konflik yang ada.
Namun, dibalik kesannya yang damai, pernyataan tersebut menyimpan persoalan mendasar yang jarang dibahas secara jujur, terutama ketika dikaitkan dengan akidah dan pilihan beragama.
Semua Agama Mengajarkan Kebaikan. Kebaikan yang Bagaimana?
Dari kalimat ini muncul pertanyaan logis, jika memang semuanya baik, lalu untuk apa manusia harus memilih satu agama tertentu dan berpegang teguh padanya? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa konsep kebaikan ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.
Jika ditinjau lebih dalam, setiap agama memiliki standar kebaikan yang berbeda, bahkan pada banyak hal justru saling bertentangan.
Dalam Islam, misalnya, laki-laki diperbolehkan melakukan poligami apabila telah memenuhi syarat sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran surah An-Nisa ayat 3.
وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ ٣
Artinya: Jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Akan tetapi, jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat zalim.
Dalam pandangan Islam, hal ini bisa bernilai baik apabila dilakukan sesuai ketentuan syariat. Namun, dalam agama lain seperti Kristen, praktik tersebut justru dipandang tidak baik dan bertentangan dengan ajaran mereka.
Contoh lainnya, Islam dengan tegas melarang konsumsi daging babi. Larangan ini menjadikan apabila muslim mengkonsumsi babi maka mereka melakukan tindakan yang tidak baik. Namun, dalam agama lain, memakan babi bukanlah sesuatu yang dilarang dan bahkan dianggap wajar.
Dari sini terlihat jelas bahwa klaim semua agama mengajarkan kebaikan tidak serta-merta berarti kebaikan yang sama.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa sejak awal, kalimat tersebut hanyalah ungkapan yang terdengar indah, tetapi menyimpan kekeliruan berpikir.
Karena setiap agama memiliki tolak ukur kebaikannya masing-masing yang bersumber dari ajaran dan keyakinannya.
Sehingga dalam Islam ditegaskan dengan jelas batasan ini.
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِࣖ ٦
Artinya: Untukmu agamamu dan untukku agamaku. (QS Al-Kafirun: 6).
Sebagai seorang muslim, tidak dibenarkan untuk menyatakan bahwa semua agama sama saja, tapi kita diwajibkan untuk menghormati agama lain. Yang ditegaskan dalam Al-Quran surah Al-An’am ayat 108,
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ١٠٨
Artinya: Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.
Dengan begitu jelaslah bahwa tolak ukur kebaikan setiap agama berbeda sehingga tidak bisa dikatakan bahwa setiap agama sama mengajarkan pada kebaikan.
Baca Juga: Semua Agama Sama, Mengajarkan pada Kebaikan: Kalimat Sepele yang Membatalkan Tauhid
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
