Beritaislam.com – Dalam Islam, waktu merupakan sesuatu yang penting. Bahkan didalam Al-Quran, Allah bersumpah atas nama waktu, misalnya seperti Ad-Dhuha, Al-‘Ashr dan lainnya.
Sehingga sebagai muslim, sejatinya tidak mengenal apa itu istilah gabut, karena setiap detik waktu selalu penting untuk dimanfaatkan sebaik mungkin. Waktu luang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan hal-hal yang bernilai.
Gabut yang Menghasilkan Pahala
Pertama, gabut yang bernilai pahala adalah mengisinya dengan muhasabah diri. Saat hati sedang lengang, seorang muslim diajak untuk menoleh ke dalam, mengevaluasi sikap, niat, dan amal yang telah dilakukan. Introspeksi juga bisa sebagai bekal kehidupan akhirat.
Kedua, gabut juga bisa bernilai ibadah ketika digunakan untuk membantu orang lain dalam kebaikan. Membantu ibu membereskan rumah, menolong adik mengerjakan tugas, atau meringankan pekerjaan teman adalah bentuk amal sederhana yang sering diremehkan.
Rasulullah SAW bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).’’ (HR. Ahmad).
Kebaikan kecil yang dilakukan saat gabut bisa menjadi pahala besar di sisi Allah.
Ketiga, waktu gabut dapat diisi dengan mempelajari hal-hal yang bermanfaat. Belajar memasak, menambah ilmu, atau melatih keterampilan baru termasuk upaya memaksimalkan potensi diri.
Rasulullah SAW bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Ilmu yang bermanfaat tidak selalu harus akademik, selama membawa kebaikan dan maslahat.
Keempat, gabut yang paling mudah menghasilkan pahala adalah dengan memperbanyak dzikir. Mengingat Allah tidak terikat waktu dan tempat. Allah SWT berfirman,
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِࣖ ١٥٢
Artinya: Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (QS. Al- Baqarah: 152).
Saat gabut diisi dengan dzikir, hati menjadi tenang dan waktu tak lagi terasa sia-sia.
Dengan begitu, gabut bukan alasan untuk lalai, melainkan kesempatan untuk mendekat kepada Allah melalui cara-cara sederhana yang sering luput disadari. Jadi, itulah cara menjadikan gabut sebagai ladang pahala.
Baca Juga: Memaknai Hadis Kematian Ulama adalah Musibah
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
