Beritaislam.com — Istiqomah sering kali terdengar indah di lisan, tetapi terasa berat dalam praktik. Banyak orang mampu memulai kebaikan, namun tidak semua sanggup bertahan di dalamnya.
Di tengah lelah, godaan pujian, dan rasa ingin berhenti, istiqomah justru diuji. Padahal dalam Islam, kebaikan yang kecil namun terus dilakukan jauh lebih dicintai Allah dibandingkan amal besar yang terputus.
Rasulullah SAW bersabda,
أَحَبَُ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.” (HR Muslim).
Lantas bagaimana tips agar istiqomah dalam melakukan kebaikan? berikut bebrapa cara yang bisa kamu lakukan.
Tips Agar Istiqomah dalam Melakukan Kebaikan
Pertama, niatkan segala kebaikan semata-mata untuk Allah SWT. Niat adalah pondasi yang menentukan arah amal. Rasulullah SAW bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
Artinya: ” Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya mencari karena dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju .” (HR. Bukhari)
Maka, saat kamu beramal hendaknya niatnya hanya untuk meraih ridho Allah SWT. Ketika niat lurus karena Allah, kebaikan tidak mudah runtuh hanya karena lelah atau kurangnya apresiasi dari manusia.
Kedua, senantiasa meminta pertolongan Allah SWT agar hati tetap dijaga dalam kebaikan. Hati manusia mudah berbolak-balik, dan Al-Qur’an mengingatkan bahwa Allah-lah yang membolak-balikkan hati manusia.
Rasulullah SAW bersabda,
نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ
Artinya: “Ya! Sesungguhnya hati (para hamba) itu berada diantara dua jari dari jari-jemari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki!”. (HR. At-Tirmidzi)
Hendaknya dalam melakukan kebaikan juga harus diiring dengan berdoa agar hatinya diteguhkan di atas agama-Nya. Ini menjadi pengingat bahwa istiqomah bukan semata hasil kekuatan diri, melainkan pertolongan Allah.
Ketiga, pahami alasan mengapa kebaikan itu dilakukan. Ketika makna kebaikan dipahami, hati lebih mudah bertahan. Misalnya, sedekah bukan sekadar memberi, tetapi kesadaran bahwa dalam harta kita ada hak orang lain.
Al-Qur’an menyebutkan bahwa pada harta orang beriman terdapat bagian bagi mereka yang membutuhkan. Pemahaman ini membuat kebaikan tidak terasa sebagai beban, melainkan tanggung jawab yang menenangkan.
وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ ١٩
Artinya: Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta. (QS. Adz- Dzariyat: 19).
Keempat, jangan menjadikan penilaian manusia sebagai tolak ukur. Pujian dan celaan manusia bersifat sementara dan sering kali tidak adil. Selama kebaikan tersebut benar dan sesuai syariat, teruslah melangkah tanpa harus sibuk mengukur reaksi orang lain. Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.
Dengan niat yang lurus, doa yang terus dipanjatkan, pemahaman yang benar, dan sikap tidak bergantung pada penilaian manusia, istiqomah bukan lagi sekadar harapan, tetapi proses yang perlahan bisa dijalani. Jadi, itulah tips agar istiqomah dalam melakukan kebaikan.
Baca Juga:Memaknai Pandangan Ulama: Larangan Pria Duduk Dibekas Duduk Wanita yang Baru saja Bangkit
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
