Beritaislam.com – Konser musik selalu menjadi tempat paling ramai dan digandrungi oleh setiap kalangan terutama anak muda. Konser musik menjadi salah satu bentuk hiburan bagi masyarakat modern tidak hanya di kota saja bahkan di desa pun sudah mulai berkembang.
Konser musik ini selalu dipenuhi oleh puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang yang berbondong-bondong untuk berjoget bersama, bernyanyi dengan idolanya, atau sekedar ingin membuat konten.
Bagi seseorang yang sudah merasakan manisnya ilmu dan amal, majelis ilmu justru dianggap sebagai tempat penyembuh dan rekreasi terbaik. Majelis ilmu seringkali diadakan di masjid terdekat, oleh suatu komunitas, maupun di acara besar.
Orang yang sudah terbiasa hadir majelis ilmu akan merasakan sebuah ketenangan terhadap segala hal, dunia pun menjadi terasa lebih ringan karena masalah hidup bisa terlupakan. Hakikat kebahagiaan sesungguhnya adalah menghadiri majelis ilmu dan bertemu dengan orang-orang alim yang berilmu.
Mengapa Konser Musik Lebih Ramai Daripada Majelis Ilmu?
Berbeda dengan orang yang belum merasakan kenikmatan hadir di dalam majelis ilmu, maka ia biasanya cenderung memilih konser musik sebagai bentuk pelarian dan hiburan terbaik.
Dari Umar bin Hafs rahimahullah, menceritakan:
حَدَّثَنَا عمر بْن حفص، قَالَ: وجه المعتصم من يحرز مجلس عاصم بْن علي بْن عاصم في رحبة النخل التي في جامع الرصافة. قَالَ: وكان عاصم بْن علي يجلس على سطح المسقطات، وينتشر الناس في الرحبة، وما يليها فيعظم الجمع جدا، حتى سمعته يوما يقول: حَدَّثَنَا الليث بْن سعد، ويستعاد، فأعاد أربع عشرة مرة، والناس لا يسمعون. قَالَ: وكان هارون المستملي يركب نخلة معوجة، ويستملي عليها، فبلغ المعتصم كثرة الجمع، فأمر بحزرهم، فوجه بقطاعي الغنم فخرزوا المجلس عشرين ومائة ألف
Artinya: “Umar bin Hafs menceritakan bahwa Al-Mu’tashim memperkirakan orang yang hadir di majelis ‘Ashim bin Ali bin ‘Ashim di lapangan pohon kurma yang berada di kawasan masjid jami’ Ar-Rushafah. Mu’tashim mengatakan bahwa ‘Ashim bin Ali duduk di bagian atas/atap rumah dan manusia menyebar di sekitar lapangan. Orang-orang yang hadir terus bertambah sehingga terkumpul jumlah yang sangat besar. Sampai suatu hari, aku mendengar ‘Ashim berkata, ‘Al-Laits bin Sa’ad menyampaikan hadits kepada kami’. Ia mengulangnya sebanyak 14 kali karena orang-orang tidak bisa mendengarnya. Ia berkata: Harun harus menaiki pohon yang bengkok untuk mendengarnya [mencatat]. Maka berita ini sampai ke Al-Mu’tashim mengenai banyaknya jumlah yang hadir. Maka ia memerintahkan orang agar memperkirakan jumlah mereka. Maka ia memperkirakan -dengan patokan sebagaimana kelompok-kelompok kambing- maka diperkirakan yang menghadiri majelis sekitar 120 ribu.” [Taarikh Bagdad 14/170, Darul Gharb Al-Islami, Beirut, 1422 H, Syamilah]
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
وَمن لم يغلب لَذَّة إِدْرَاكه الْعلم وشهوته على لَذَّة جِسْمه وشهوة نَفسه لم ينل دَرَجَة الْعلم ابدا فَإِذا صَارَت شَهْوَته فِي الْعلم ولذته فِي كل إِدْرَاكه رجى لَهُ ان يكون من جملَة اهله وَلَذَّة الْعلم لَذَّة عقلية روحانية من جنس لَذَّة الْمَلَائِكَة وَلَذَّة شهوات الاكل وَالشرَاب وَالنِّكَاح لَذَّة حيوانية يُشَارك الانسان فِيهَا الْحَيَوَان
Artinya: ”Barangsiapa yang tidak bisa memenangkan kelezatan mengenal ilmu dan syahwat (terhadap ilmu) di atas kelezatan badan dan nafsu syahwatnya, maka dia tidak akan meraih derajat ilmu sama sekali. Apabila syahwatnya tertuju pada ilmu dan kelezatannya tertuju pada meraih ilmu tersebut, maka bisa diharapkan bahwa dia termasuk dalam orang yang berilmu. Kelezatan menuntut ilmu adalah kelezatan bagi akal dan ruh, sejenis dengan kelezatan (yang dirasakan) malaikat. Adapun kelezatan syahwat, makanan, minuman, dan hubungan badan adalah kelezatan khayawaniyyah (kebinatangan), yang di dalamnya bersekutu antara manusia dan hewan.”
Konser musik sering menjadi tempat terjadinya dosa karena laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya bisa berbaur sembarangan, berjoget bersama, atau bahkan bisa saling bersentuhan.
Alasan konser musik lebih ramai daripada majelis ilmu karena konser musik terdapat nyanyian yang kadang bisa menimbulkan syahwat atau juga lagu-lagu yang unsurnya melenceng dari syariat karena anak muda yang seringkali tidak dibekali ilmu agama akan sangat tersesat dan mudah terbawa arus.
Bukan berarti konser musik atau bentuk hiburan lainnya itu dilarang secara mutlak oleh Islam. Pada dasarnya, hiburan merupakan salah satu perkara yang mubah, bahkan bisa saja dinilai sebagai salah satu bentuk ibadah jika membuat hati menjadi lebih tenang dan jasmani menjadi lebih bugar.
Namun, yang tidak boleh dilakukan adalah mencari hiburan ke tempat-tempat yang dilarang oleh Allah SWT maupun hal-hal lainnya yang melanggar syariat Islam. Allah SWT tidak serta merta mengharamkan hamba-Nya untuk mencari liburan karena jika liburan tersebut justru membuat tubuh semangat dalam beribadah maka akan sangat diperbolehkan.
Demikianlah yang menjadi alasan mengapa konser musik lebih ramai daripada majelis ilmu. Majelis ilmu adalah salah satu healing terbaik bagi yang merasa lelah atau memiliki masalah duniawi, maka dengan menghadiri majelis ilmu bisa menjadi salah satu solusi.
Meskipun tidak ada laranga secara mutlak menghadiri konser musik, namun alangkah baiknya jika kita sebagai umat Islam menghindari hal-hal yang sekiranya membawa kemudharatan yang lebih besar.
Baca Juga: Inilah 4 Keutamaan Berada di Majelis Ilmu, Salah Satunya Dimuliakan Malaikat
Penulis: Suci Wulandari
