Beritaislam.com – Di tengah kehidupan sosial yang makin sensitif, fenomena takut menasihati karena takut dijauhi menjadi hal yang nyata dirasakan banyak Muslim. Niat baik untuk saling mengingatkan sering tertahan oleh kekhawatiran dicap sok suci, ikut campur, atau bahkan kehilangan relasi.
Padahal, dalam Islam, menasihati bukan sekadar pilihan moral, melainkan bagian dari tanggung jawab keimanan yang harus dijalankan dengan adab dan hikmah.
Perintah Menasihati Sesama Muslim Dengan Cara yang Baik
Islam secara tegas memerintahkan umatnya untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-‘Asr ayat 3,
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ ٣
Artinya: kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.
Ayat ini menunjukkan bahwa nasihat merupakan ciri keimanan, bukan tindakan yang boleh ditinggalkan karena rasa takut dijauhi.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim,
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Artinya: Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa esensi agama tidak terlepas dari keberanian menyampaikan kebaikan, tentu dengan cara yang lembut dan tidak menyakiti.
Penyebab Takut Menasihati
Pertama, takut kehilangan hubungan sosial. Banyak orang menahan nasihat karena khawatir dianggap merusak suasana atau meretakkan pertemanan, terutama di lingkungan kerja dan pergaulan modern.
Kedua, pengalaman buruk di masa lalu. Pernah ditolak, disalahpahami, atau dijauhi setelah menasihati membuat seseorang trauma dan akhirnya memilih diam, meski melihat kemungkaran di depan mata.
Ketiga, kesalahan memahami konsep toleransi. Tak sedikit yang mengira bahwa menghormati orang lain berarti membiarkan kesalahan tanpa diingatkan, padahal Islam mengajarkan kasih sayang justru melalui nasihat yang bijak.
Fenomena takut menasihati karena takut dijauhi seharusnya tidak mematikan kepedulian. Islam tidak menuntut kita keras, tetapi juga tidak membenarkan sikap apatis. Yang dibutuhkan adalah niat yang lurus, cara yang tepat, dan keyakinan bahwa Allah menilai usaha, bukan hasil akhirnya.
Baca Juga: Rasulullah Sering Healing? 3 Rekomendasi Tempat Healing Untuk Kesehatan Mental
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
