Berita Islam – Hijrah dalam Islam bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perubahan sikap dan perilaku menuju kebaikan.
Makna ini ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis sebagai proses spiritual yang berkelanjutan.
Namun, di era digital saat ini, hijrah kerap dipahami secara berbeda. Media sosial membuat hijrah tampil sebagai tren, identik dengan perubahan visual dan gaya hidup yang mudah terlihat publik.
Padahal, Rasulullah SAW telah menegaskan makna hijrah yang sesungguhnya dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:
“Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.”
Hadis ini menekankan bahwa hijrah sejati terletak pada perubahan akhlak dan ketaatan, bukan sekadar tampilan luar.
Fenomena hijrah digital memang memiliki sisi positif. Konten dakwah yang tersebar luas dapat menjadi pengingat dan motivasi bagi banyak orang untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 125 tentang pentingnya menyeru kepada kebaikan dengan cara yang baik dan bijaksana.
Namun, tantangan muncul ketika hijrah lebih diarahkan pada pengakuan sosial. Ketulusan iman dapat tergerus jika hijrah dijadikan ajang pembuktian diri.
Al-Qur’an mengingatkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 218 bahwa hijrah yang bernilai di sisi Allah adalah hijrah yang disertai iman dan perjuangan di jalan-Nya.
Oleh karena itu, hijrah di era digital perlu dimaknai secara lebih jujur dan mendalam. Media sosial hanyalah sarana, bukan tujuan.
Selama niat tetap lurus dan perubahan dilakukan secara konsisten, hijrah tidak akan berhenti sebagai tren, melainkan menjadi jalan untuk memperbaiki diri dan memperkuat iman.
Baca Juga : 3 Perbuatan Dosa Yang Sering Kita Sepelekan Tapi Berujung Pada Dosa Besar, Muslim Harus Tahu!
