Berita Islam Terkini
  • Beranda
  • Info Islami
  • Hukum Islam
  • Tokoh
  • Keutamaan
  • Khazanah
  • Hikmah
Donasi
Berita Islam TerkiniBerita Islam Terkini
Aa
  • Beranda
  • Info Islami
  • Hukum Islam
  • Tokoh
  • Keutamaan
  • Khazanah
  • Hikmah
Cari Berita
  • Beranda
  • Info Islami
  • Hukum Islam
  • Tokoh
  • Keutamaan
  • Khazanah
  • Hikmah
Follow US

Home - kisah teladan - Belajar Syukur Dengan Keadaan! Teladan Tsa’labah bin Hathib!

Tokoh

Belajar Syukur Dengan Keadaan! Teladan Tsa’labah bin Hathib!

Anggita Armandika
Last updated: 2025/02/07 at 4:24 PM
Anggita Armandika
Share
Teladan Tsa'labah bin Hathib! Belajar Syukur Dengan Keadaan!
SHARE

BERITAISLAM.COM – Hidup dalam kekayaan memang impian seluruh penduduk semesta. Padahal Allah memiliki kendali atas segala hal yang ada di bumi ini, termasuk mencabut nikmat kekayaan. Mulai saat ini belajar syukur dengan keadaan yang telah Allah tetapkan.

Contents
Belajar Syukur Dengan KeadaanKisah Tsa’labah bin Hathib 

Dunia ini berjalan begitu adil, bahkan semua ada balasannya sendiri. Memang sudah seharusnya tugas manusia bersyukur dan terus berdoa, meski belum mampu bersedekah sebagai implementasi rasa syukur tersebut.

Artikel di bawah akan mengulas perihal belajar syukur dengan keadaan yang telah Allah tetapkan, serta kisah realistis pada zaman nabi. Simak lengkapnya!

Belajar Syukur Dengan Keadaan

Rezeki merupakan hak atas setiap manusia yang telah Allah berikan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Rezeki tak selalu berupa materi, bisa berupa non-materi. Rezeki berupa materi harus dijemput dengan cara-cara yang halal demi meraih keberkahan.

Dalam pandangan islam, rezeki terbagi menjadi dua jenis, rezeki umum dan khusus. Rezeki umum adalah jenis rezeki yang bermanfaat untuk seluruh makhluk hidup. Seperti harta, kesehatan, maupun tempat tinggal.

Sedangkan rezeki khusus yaitu rezeki yang menunjang kebermanfaatan rohani. Rezeki ini bermanfaat untuk menegakkan iman dan taqwa seseorang, seperti ilmu, amal ibadah, serta keistiqomahan. 

Hidup tak selamanya berada di pihak kita. Bisa saja yang semula miskin dijadikan kaya, pun bisa dikembalikan lagi pada keadaan miskin. Hidup memang bukan ranah kita untuk diatur baik-baik saja.

Janji Allah yang pasti, Dia akan menambah nikmat pada orang yang senantiasa bersyukur. Meski pada dasarnya nikmat ini tak selalu perihal uang. Kadang bisa berupa nikmat makanan, lingkungan yang nyaman, bahkan nikmat beribadah.

Allah menitip kemiskinan agar manusia mampu bersabar dengan kondisinya. Pun dengan kekayaan agar manusia mengingat Allah dengan senantiasa bersyukur. Kedua keadaan tersebut memiliki peluang untuk menjatuhkan manusia pada jalan yang salah.

Sebagai manusia yang berakal kita harus belajar bersyukur dengan keadaan. Kekayaan tak selalu baik, pun dengan kemiskinan tidak selalu buruk. Setiap keadaan memiliki sisi baik tersendiri. 

Apa yang terlihat dalam pandangan manusia berbeda dengan pandangan Allah. Mulai belajar syukur dengan keadaan yang mungkin kini membuat kita selalu mengeluh. Akan ada hari Allah membalikkan semuanya dengan adil.

Belajar syukur dengan keadaan sama dengan membuka peluang pintu rezeki seseorang. Yang mana sesuai janji-Nya bahwa semakin seseoang itu bersyukur maka Allah akan tambah nikmatnya.

Kisah Tsa’labah bin Hathib 

Tsalabah merupakan sahabat nabi yang sangat istiqomah mengikuti jamaah sholat bersama Rasulullah. Ia merupakan orang yang paling miskin hingga hanya memiliki satu sarung untuk shalat.

Setiap selesai shalat, Tsa’labah bergegas untuk pulang demi memberikan sarungnya pada istrinya agar bisa shalat, saking miskin kondisinya saat itu. Hingga suatu ketika dia mendatangi Rasulullah.

Tsa’labah meminta Rasulullah untuk mendoakannya agar Allah memberinya kecukupan rezeki. Rasulullah tak langsung memenuhi pintanya, ia menasehati Tsa’labah bahwa ketika ia mampu bersyukur dengan kondisi itu, maka itu lebih baik baginya.

Semula Tsa’labah menerima nasihat itu. Tibanya di rumah, ia masih berkeinginan untuk menjadi seseorang yang kaya. Maka keesokan harinya ia kembali mendatangi Rasulullah. Namun Rasulullah memberikan jawaban yang sama.

Di hari ketiga, Tsa’labah kembali lagi dan mendesak Rasulullah agar mendoakannya. Saat itu Rasulullah pun mendoakan agar Tsa’labah diberikan kekayaan. Rasulullah memberikan seekor domba untuk dipelihara.

Dalam waktu yang singkat, domba itu berkembang biak menjadi amat banyak. Akibatnya, Tsa’labah jarang mengikuti jamaah bersama Rasulullah karena harus menggembala domba-dombanya.

Bahkan ia sudah tidak pernah lagi datang ke masjid karena harus mengantarkan dombanya ke tempat yang jauh dari Makkah. Bahkan ketika utusan Rasulullah datang untuk meminta zakat, dengan tegas ditolaknya.

Ia berpendapat bahwa seluruh kekayaannya tidak ada sangkut paut dengan orang lain. Sehingga orang lain tidak berhak mendapatkannya sedikitpun. Kemudian Allah mengambil seluruh kekayaan Tsa’labah hingga kondisinya jauh lebih sengsara dari sebelumnya.

Berkaitan dengan peristiwa ini, turunlah wahyu QS. At-Taubah ayat 75-77. Sambil menaburkan tanah di kepalanya, Tsa’labah menangis sembari memanggil Rasulullah. Namun Rasulullah tidak menghiraukannya hingga ia disisihkan oleh masyarakat.

Kisah ini mengajarkan untuk senantiasa belajar syukur dengan keadaan yang telah Allah beri pada setiap kehidupan manusia. Keterbatasan kemampuan berpikir manusia kadang membuatnya menyimpulkan secara buruk.

Memaksakan takdir justru akan memperkeruh keadaan menjadi semakin buruk, seperti yang telah dialami oleh Tsa’labah bin Hathib. Jika dia belajar syukur dengan keadaan saat itu, mungkin keadaannya kini tidak jauh lebih buruk dari yang lampau.

Adanya kisah ini semoga memotivasi setiap pribadi untuk terus belajar syukur dengan keadaan yang mungkin dalam pandangan manusia itu buruk. Semoga bermanfaat untuk kamu yang baca!

TAGGED: kisah teladan, hikmah bersyukur, tsalabah bin hathib
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Previous Article Tips Ampuh Menghidupkan Bulan Sya’ban! Tips Ampuh Menghidupkan Bulan Sya’ban! 
Next Article Siap Menyambut Ramadhan! Ini Ide Menu Buka Puasa untuk Bulan Ramadhan Siap Menyambut Ramadhan! Ini Ide Menu Buka Puasa untuk Bulan Ramadhan

Recent Posts

  • Hukum Menelan Dahak Saat Puasa Ramadhan, Apakah Membatalkan Puasanya? Inilah Pandangan Islam!
  • Kerja Keras Tanpa Henti, Namun Hati Malah Terasa Hampa dan Kosong? Inilah Penjelasannya!
  • Menikah Saat Bulan Ramadhan: Boleh atau Tidak dalam Hukum Islam?
  • Puasa Ramadhan Tanpa Sahur, Bagaimana Hukumnya dalam Islam? Apakah Puasanya Tetap Sah?
  • Fenomena Mokel Saat Puasa Ramadhan Tanpa Uzur Syar’i, Inilah Pandangan Islam!

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

You Might Also Like

Perjalanan Kisah Ratu Balqis: Hikmah, dan Pelajaran Iman
ArtikelTokoh

Perjalanan Kisah Ratu Balqis: Hikmah, dan Pelajaran Iman

4 Min Read
Bilal bin Rabah: Muadzin Pertama Rasulullah, Yuk Cek Fakta Unik Tentangnya!
HikmahTokoh

Bilal bin Rabah: Muadzin Pertama Rasulullah, Yuk Cek Fakta Unik Tentangnya!

4 Min Read
4 Hikmah Kisah Nabi Ayyub: Mengambil Sisi Kebaikan dari Sosok Teladan
HikmahTokoh

4 Hikmah Kisah Nabi Ayyub: Mengambil Sisi Kebaikan dari Sosok Teladan

4 Min Read
3 Ujian Nabi Ayyub: Tokoh Teladan yang Kisahnya Terdapat Banyak Hikmah
KhazanahTokoh

3 Ujian Nabi Ayyub: Tokoh Teladan yang Kisahnya Terdapat Banyak Hikmah

5 Min Read

Merentangkan Sayap Islam: Menyajikan Berita Terkini dari Berbagai Penjuru

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?