Beritaislam.com– Akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026, berita bencana alam masih tersebar luas di wilayah Indonesia. Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor akibat dari curah hujan yang tinggi. Sudah menjadi hal yang biasa, ketika terjadi bencana pastinya banyak orang yang mengaitkannya dengan alam yang sudah tua hingga karma.
Banyak orang berspekulasi seolah bencana yang terjadi merupakan akibat dari dosa yang manusia perbuat selama ini. Benarkah dalam ajaran Islam jika bencana alam yang terjadi merupakan karma bagi manusia?
Karma dan Konsep Bencana Alam dalam Islam
Secara umum karma merupakan hukum sebab-akibat yang berarti setiap tindakan akan menghasilkan konsekuensi yang sepadan di masa depan. Terdapat karma baik dan karma buruk, hukum ini seperti dengan hukum tabur tuai.
Dalam Islam, bencana alam tidak ada sangkut pautnya dengan karma. Kejadian tersebut merupakan suatu ketetapan Allah SWT yang mengandung hikmah didalamnya. Hal ini terjadi untuk menguji keimanan manusia, akankah mereka tetap bertaqwa kepada Allah setelah diberikannya ujian.
Bencana alam juga sebagai bentuk teguran agar manusia kembali mengingat Allah. Seperti yang kita tahu bahwa bumi dan seisinya adalah milik Allah, harta yang tengah kita nikmati, rumah yang tengah kita tempati, rezeki yang selalu kita cari, itu milik Allah yang bisa Allah ambil kembali.
Lantas adanya korban jiwa dalam bencana alam apakah bentuk rasa kecewa Allah pada manusia tersebut? Hidup dan mati seseorang semua adalah kuasanya. Seseorang akan kembali kepada sang pemiliknya jika hari itu tiba, maka hal itu bukanlah hukuman melainkan ketetapan.
Tanah longsor dan banjir merupakan akibat dari ulah manusia itu sendiri. Manusia tidak merawat alam dengan menebang pohon secara liar yang akibatnya tidak ada pohon yang menyerap air hujan. Kemudian membuang sampah ke aliran sungai yang mengakibatkan tersumbatnya air sungai ketika musim hujan.
Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Dalam ayat tersebut telah dijelaskan bahwa kerusakan alam yang terjadi merupakan bentuk akibat dari ulah manusia itu sendiri. Adanya suatu bencana merupakan sebagai bentuk peringatan agar manusia sadar, bertaubat, dan kembali ke jalan Allah SWT.
Ketika menghadapi bencana alam, Islam mengajarkan kita untuk mengambil sikap yang seimbang dalam menghadapi bencana alam tersebut. Sebagai seorang muslim haruslah kita bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT. Berintropeksi diri atas apa yang telah terjadi. Lebih menjaga alam dan lingkungan, serta membantu korban jiwa.
Itulah pembahasan hari ini dalam pandangan Islam, bencana alam bukanlah karma. Bencana alam merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT yang mengandung hikmah. Oleh karena itu setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam dan tidak merusak lingkungan.
Penulis: Liantang Suryaningrum
